The Story Behind layangan.com
Kata layangan diambil dari Bahasa Jawa yang berarti layang-layang dalam Bahasa Indonesia. Bedakan dengan kata layang yang berarti surat.
Ketika saya masih sekolah SD (kira-kira umur 6-8) tahun, bermain layang-layang adalah satu-satunya permainan yang mahir saya mainkan :-). Walaupun saya mahir memainkan, saya kurang bisa membuatnya. Mungkin kalau diambil sample dari 10 kali percobaan 8 diantaranya adalah: gagal. Jadi saya lebih suka membeli, biasanya bergambar superhero jaman itu, seperti Captain America, Superman, Phantom dan lainnya.
Bermain layang-layangan biasanya kami lakukan pada musim kemaraundi sore hari. Jenis layang-layang yang saya sukai adalah model biasa (pure kite), alias tanpa ekor atau bentuk-bentuk fancy lainnya semisal burung, kupu-kupu, ataupun layang-layang dengan pita bersuara (Jw: sawangan). Saya suka bentuk biasa karena, tentunya mudah ditebak, gampang untuk dikendalikan dan diadu :D. Ya, saya gemar sekali mengadu layang-layang. Saya masih ingat kalau mengadu layang-layang, selalu menggunakan benang yang dilumuri dengan pecahan bubuk kaca, kami menyebutnya dengan benang gelasan. Sampai suatu saat, ketika layang-layang yang sering menang diadu kalah dan putus, dan saya coba kejar. Apes, saya malah ditabrak oleh motor atau apa saya lupa waktu itu. Semenjak itu, saya dilarang main layang-layang oleh orang tua saya :(.
Sebenarnya banyak sekali permainan anak-anak pada waktu itu misalnya: patil-lele, gobaksodor, betengan, kasti, dakon (congklak), engkle, jumpritan, tulupan, ampar, gasingan, yoyo dan masih banyak lagi lainnya. Tentu kalau Anda orang Jawa (atau pernah hidup di Jawa) sudah tidak asing lagi dengan nama-nama diatas. Namun, saya sudah kadung cinta mati mengadu layang-layang…
Random Posts:
← Scrolling Trackpoint di Linux Selamat Jalan Pak Bastian Tito →









on 2 January 2006 10:01:47 WIB







5 Comments